Apa Itu Impaksi Gigi?
Pernah merasakan sakit atau nyeri di bagian belakang rahang, gusi bengkak, atau sulit membuka mulut? Keluhan tersebut jangan selalu dianggap sebagai sakit gigi biasa. Salah satu penyebabnya bisa berupa impaksi gigi, yaitu kondisi ketika gigi tidak dapat tumbuh atau muncul secara sempurna karena terhalang oleh gigi lain, tulang, atau jaringan gusi.
Impaksi paling sering terjadi pada gigi geraham ketiga atau gigi bungsu (wisdom teeth). Kondisi ini umumnya terjadi karena ruang yang tersedia di rahang tidak cukup untuk membuat gigi tumbuh pada posisi dan arah yang normal.
Tidak semua gigi impaksi langsung menimbulkan keluhan. Namun, ketika mulai menyebabkan nyeri, infeksi, kerusakan gigi di sekitarnya, atau gangguan lainnya, pemeriksaan oleh dokter gigi dapat diperlukan untuk menentukan penanganan yang tepat.
Apa yang Dimaksud dengan Impaksi Gigi?
Impaksi gigi merupakan kondisi ketika gigi terhambat untuk tumbuh ke posisi normal. Pada gigi bungsu, hambatan tersebut dapat membuat gigi tumbuh miring, sebagian muncul di permukaan gusi, atau bahkan tetap terpendam di dalam tulang rahang.
Posisi gigi yang mengalami impaksi dapat berbeda-beda. Ada yang tumbuh miring ke arah gigi di depannya, tumbuh hampir mendatar, atau hanya sebagian mahkotanya yang keluar dari gusi.
Karena bentuk dan posisi impaksi setiap pasien berbeda, dokter biasanya membutuhkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen untuk mengetahui posisi gigi serta hubungannya dengan struktur di sekitarnya.
Apa Saja Gejala Impaksi Gigi?
Gigi impaksi tidak selalu menimbulkan gejala. Namun, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
1. Nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian belakang rahang.
2. Gusi di sekitar gigi bungsu membengkak atau kemerahan.
3. Gusi mudah mengalami infeksi.
4. Bau mulut atau rasa tidak enak di dalam mulut.
5. Kesulitan membuka mulut.
6. Nyeri saat mengunyah.
7. Makanan mudah terselip di sekitar gigi bungsu.
8. Gigi di sebelahnya mengalami kerusakan atau masalah gusi.
Salah satu masalah yang dapat muncul adalah perikoronitis, yaitu peradangan pada jaringan gusi di sekitar gigi yang tumbuh sebagian. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, dan terkadang infeksi.
Selain itu, gigi impaksi yang bermasalah dapat berkaitan dengan karies, penyakit periodontal, infeksi berulang, serta beberapa kelainan seperti kista. Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa penyakit yang berkaitan dengan gigi molar ketiga impaksi merupakan salah satu pertimbangan penting dalam menentukan tindakan pencabutan.
Mengapa Gigi Bungsu Sering Mengalami Impaksi?
Gigi bungsu merupakan gigi permanen yang tumbuh paling belakang. Pada sebagian orang, ruang rahang yang tersedia tidak cukup untuk memungkinkan gigi tersebut tumbuh dengan posisi yang normal.
Akibatnya, gigi dapat tumbuh dalam posisi miring atau terpendam. Kondisi tersebut dapat membuat area di sekitar gigi lebih sulit dibersihkan sehingga sisa makanan dan bakteri lebih mudah menumpuk.
Namun, gigi bungsu yang impaksi tidak otomatis harus dicabut pada setiap orang. Keputusan untuk melakukan pencabutan perlu mempertimbangkan kondisi klinis, adanya penyakit atau gejala, posisi gigi, serta hasil pemeriksaan dokter. Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa pencabutan gigi molar ketiga perlu dipertimbangkan terutama ketika terdapat penyakit atau kondisi patologis yang berkaitan dengan gigi tersebut.
Apakah Impaksi Gigi Harus Dicabut?
Tidak semua impaksi membutuhkan tindakan operasi. Dokter akan melakukan evaluasi terlebih dahulu untuk menentukan apakah gigi dapat dipertahankan dan dipantau atau membutuhkan tindakan pencabutan.
Pencabutan dapat dipertimbangkan apabila gigi impaksi menyebabkan masalah seperti:
1. Infeksi berulang
Peradangan pada gusi di sekitar gigi bungsu yang terjadi berulang dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.
2. Kerusakan gigi di sebelahnya
Gigi impaksi yang tumbuh miring dapat menyulitkan pembersihan dan berpotensi menyebabkan masalah pada gigi molar kedua.
3. Karies atau penyakit gusi
Posisi gigi yang sulit dibersihkan dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah gigi dan jaringan pendukungnya.
4. Kista atau kelainan patologis lainnya
Pada kondisi tertentu, gigi impaksi dapat berkaitan dengan terbentuknya kelainan di sekitar gigi sehingga membutuhkan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.
Apa Itu Operasi Gigi Impaksi?
Jika posisi gigi menyebabkan pencabutan biasa tidak memungkinkan, dokter dapat melakukan tindakan bedah gigi atau odontektomi. Prosedur dilakukan dengan anestesi sesuai kebutuhan pasien dan kondisi tindakan.
Dokter dapat membuat akses pada jaringan gusi dan, pada kasus tertentu, mengurangi sebagian tulang atau membagi gigi menjadi beberapa bagian agar gigi dapat dikeluarkan dengan lebih aman.
Sebelum tindakan, dokter akan mengevaluasi posisi gigi melalui pemeriksaan klinis dan pencitraan. Hal ini penting karena beberapa gigi geraham bungsu rahang bawah berada dekat dengan struktur saraf sehingga perencanaan tindakan harus dilakukan secara hati-hati. Literatur terbaru juga menekankan pentingnya mempertimbangkan hubungan gigi impaksi dengan struktur neurovaskular dalam perencanaan tindakan.
Apa yang Terjadi Setelah Operasi?
Setelah operasi gigi impaksi, pasien dapat mengalami nyeri, pembengkakan, keterbatasan membuka mulut, atau rasa tidak nyaman selama masa pemulihan. Tingkat keluhan dapat berbeda-beda pada setiap pasien.
Penelitian sistematis mengenai pencabutan gigi molar ketiga menunjukkan bahwa komplikasi pascaoperasi seperti nyeri, pembengkakan, keterbatasan membuka mulut, perdarahan, dan infeksi dapat terjadi, sehingga pasien perlu mengikuti instruksi perawatan yang diberikan dokter setelah tindakan.
Apabila setelah tindakan muncul perdarahan yang sulit berhenti, pembengkakan semakin berat, demam, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, pasien sebaiknya segera menghubungi fasilitas kesehatan.
Jangan Tunggu Sampai Sakit Semakin Berat
Nyeri pada bagian belakang rahang memang dapat terasa seperti sakit gigi biasa. Namun, apabila keluhan terus berulang, gusi sering membengkak, atau terdapat gigi bungsu yang tumbuh miring, sebaiknya jangan hanya mengandalkan obat pereda nyeri tanpa mengetahui penyebabnya.
Pemeriksaan lebih awal dapat membantu dokter mengetahui posisi gigi dan kondisi jaringan di sekitarnya sehingga pilihan penanganan dapat ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Periksa Gigi Impaksi ke Dokter Spesialis Bedah Mulut di IHC RS Djatiroto
Tidak perlu menunggu hingga nyeri mengganggu aktivitas. IHC RS Djatiroto memiliki Klinik Spesialis Bedah Mulut yang menangani berbagai masalah di rongga mulut, termasuk gigi bungsu yang terpendam atau tumbuh miring.
Saat ini, layanan Klinik Spesialis Bedah Mulut IHC RS Djatiroto dilayani oleh drg. Pradiksa Adhiatsa, Sp. BM. Jadwal yang tercantum pada laman resmi rumah sakit adalah Kamis pukul 16.00–19.00 WIB.
Jadwal dapat berubah, sehingga pasien disarankan melakukan konfirmasi sebelum datang.
Jika Anda mengalami nyeri di belakang rahang, gusi bengkak, sulit membuka mulut, atau memiliki gigi bungsu yang tumbuh miring, segera konsultasikan kondisi Anda kepada Dokter Spesialis Bedah Mulut di IHC RS Djatiroto.
Kenali sejak dini, jangan tunggu sampai impaksi gigi menimbulkan komplikasi.
Daftar Pustaka :
- Ghaeminia H, et al. Surgical removal versus retention for the management of asymptomatic disease-free impacted wisdom teeth. Cochrane Database of Systematic Reviews. Cochrane Library.
- Nascimento EHL, et al. Indications of the extraction of symptomatic impacted third molars: A systematic review. Journal of Clinical and Experimental Dentistry. 2021.
- Azab M, Ibrahim S, Li A, et al. Efficacy of secondary vs primary closure techniques for the prevention of postoperative complications after impacted mandibular third molar extractions: A systematic review update and meta-analysis. Journal of the American Dental Association. 2022;153(10)
- Alonso Carrasco-Labra A, Brignardello-Petersen R, Yanine I, et al. Secondary versus primary closure techniques for the prevention of postoperative complications following removal of impacted mandibular third molars: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Oral and Maxillofacial Surgery. 2012;70(8)
- Al-Moraissi EA, et al. Prevalence of surgical site infections following extraction of impacted mandibular third molars: A systematic review and meta-analysis. 2024. International Journal of Oral and Maxillofacial Surgery.
- Andreadou A, et al. Managing Impacted Mandibular Third Molars: A Scoping Review of Surgical Extraction versus Orthodontic Traction and Nerve Injury Risk. Acta Medica (Hradec Králové). 2026;69(1)
